Inflasi Juni di atas Prediksi BPS

JAKARTA Badan Pusat Statistik mengakui malu atas kesalahan prediksi inflasi Juni 2011 yang sebelumnya diperkirakan lebih rendah dari realisasi sebesar 0,55%.Kepala BPS Rusman Heriawan memaparkan lembaganya mencatat inflasi Juni sebesar 0,55%, lebih rendah dari prediksinya yang berkisar 0,l%-0,2%. Dengan realisasi tersebut, maka inflasi tahun kalender mencapai 1,06% dan inflasi Juni secara tahunan [year-on-year) sebesar 5,54%.”Saya agak malu, sering bilang [ke media] inflasi Juni 0,l%-0,2%. Memang sampai minggu ketiga harga-harga masih kami lihat di kisaran itu, tetapi minggu keempat ada kenaikan signifikan terhadap harga-harga bahan pokok sehingga hasil akhir jadi 0,55%,” ujarnya kemarin.Inflasi tahun kalender, lanjut Rusman, mengalami kenaikan dari sebelumnya di bawah 1% menjadi1,06% pada Juni. Sementara inflasi year-on-year justru turun dari 5,98% pada Juni 2010 menjadi 5,54%.”Pada Juni [2010] angka inflasi 0,97% dibandingkan dengan inflasi Juni 2011 sebesar 0,55%, inflasi secara tahunan jadi tertarik ke bawah.”Untuk inflasi inti, Rusman mengkhawatirkan tren yang terus meningkat, meskipun belum menyentuh 5%. Inflasi inti Juni tercatat sebesar 0,33%, sedangkan secara year-on-year 4,63%. Menurut Rusman, inflasi atas harga-harga yang diatur pemerintah pada Juni sebesar 5,61%, sedangkan inflasi atas harga bergejolak 8,57%. “Inflasi volatile itu yang terbaik, bagus.”

Berdasarkan survei BPS, dari 66 kota sebanyak 65 kota mengalami inflasi. Hanya satu kota yang deflasi, yaitu Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Inflasi tertinggi di Ambon 3,76% disusul Sorong 2,35%. Sedangkan yang terendah adalah Padang Sidimpuan 0,04%.Rusman mengatakan kendati laju inflasi Januari-Juiu naik menjadi 1,06%, kelompok bahan makanancenderung turun sepanjang paruh pertama.Namun secara bulanan, kelompok bahan makanan menjadi penyumbang inflasi Juni tertinggi, yakni sebesar 0,3%. Penyumbang selanjutnya diikuti kelompok makanan jadi dan minuman 0,08%, kelompok perumahan-air-listrik 0,07%, dan sandang 0,04%.”Semua atau tujuh kelompok barang mengalami inflasi, dan yang tertinggi bahan makanan.”Berdasarkan komoditas, BPS merinci penyumbang inflasi tertinggi adalah beras. Apabila selama 3 bulan sebelumnya menyumbang deflasi terbesar, mulai Juni berbalik menjadi penyumbang inflasi tertinggi.”Beras menyumbang 0,07%, diikuti daging ayam ras 0,07%, bawang merah 0,06%, telur ayam ras 0,05%, ikan segar 0,04%, rokok kretek filter 0,03%, dan emas perhiasan 0,03%,” papar Rusman.Dari inflasi Juni 0,55%, cabai merah menyumbang deflasi -0,03%, cabai rawit -0,02%, dan gula pasir 0,02%.
By. Agust Supriadi

Print Friendly, PDF & Email
line
Translate »