Beranda

Siaran Pers

Pemerintah Harus Segera Memperkuat Kebijakan
Pelarangan Total Iklan Rokok di Semua Media Khususnya Media Online

 “iklan rokok di media online berpengaruh terhadap sikap anak dan remaja pada perilaku merokok. Iklan rokok muncul pada semua jenis media online, terutama pada semua platform media sosial yang populer digunakan kalangan anak dan remaja.”

 

Jakarta, 29 April 2019  – Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI) hari ini di Jakarta mengadakan sebuah diskusi publik mengenai pelarangan iklan rokok di media online. Diskusi publik ini menghadirkan nara sumber dari berbagai kalangan yang kompeten membahas isu penting ini, selain dihadiri pula oleh penggiat dan pemerhati pengendalian rokok di Indonesia. Para nara sumber adalah dari            Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informasi RI, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes RI, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)  dan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI).

“Pelarangan total iklan rokok di media online sudah saatnya dilakukan. Pemerintah harus memperkuat larangan iklan rokok sebagian di media massa dengan larangan total iklan rokok di semua media termasuk media online,” papar dr. Sumarjati Arjoso, SKM, Ketua TCSC IAKMI. Hal ini karena terpaan iklan rokok di media berdampak pada sikap anak dan remaja pada perilaku merokok.  Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan data bahwa terjadi peningkatan prevalensi perokok anak dan remaja usia 10-18 tahun dari 7,2% di tahun 2013 menjadi 9,1% di tahun 2018.

Seperti kita ketahui, di era industri 4,0 dunia kominikasi digital semakin berkembang pesat dan berperan amat penting dalam lalu lintas pesan publik. Tak bisa dielakan, imbasnya juga merambah media konvensional yang perannya semakin tergeser oleh media online. Salah satu hal yang kasat mata adalah beralihnya pemasangan iklan dari media cetak dan elektronik ke media online. Bisa kita lihat pada penempatan iklan produk rokok yang semakin gencar menyasar anak dan remaja lewat media online. Anak dan remaja, yang sejak dulu merupakan target utama iklan rokok, saat ini adalah generasi asli digital (digital native) dengan tingkat konsumsi media online yang tinggi. Sudah pasti, iklan rokok membanjiri media online dengan amat gencar dan masif demi memberikan terpaan tinggi bagi target utamanya, anak dan remaja. AC Nielsen dalam laman reminya menyebutkan, di Indonesia iklan rokok di media televisi menunjukkan penurunan volume sebesar 1,2 triliun rupiah pada tahun 2018 (1,6T) dibandingkan tahun 2017 (2,8T).

Drs. Anthonius Malau, M.Si, Kasubdit Pengendalian Konten Internet Kementerian Komunikasi dan Informasi RI, menyatakan, “Jika Kementerian Kesehatan berani mengeluarkan aturan yang menyatakan produk rokok dilarang diiklankan, termasuk di internet, maka Kementerian Kominfo akan melarang semua konten iklan rokok di internet.” Drs. Anthonius menambahkan, sebaiknya pendaftaran di media sosial berdasarkan nomor handphone sehingga mencegah anak yang belum cukup umur memiliki akun di media sosial dan tentunya mengurangi kesempatan anak untuk dapat melihat iklan di internet.

Di sisi lain, perlindungan anak dan remaja dari terpaan iklan rokok di berbagai media masih amat lemah. Kebijakan pelarangan total iklan rokok di Indonesia belum ada, iklan rokok hanya dilarang parsial. Padahal pelarangan iklan rokok sebagian terbukti tidak efektif melindungi anak dan remaja dari terpaan iklan.

Ridhwan Fauzi, MPH, peneliti TCSC-IAKMI memaparkan hasil studi yang dilakukan oleh lembaga ini pada akhir 2017 bahwa anak dan remaja usia dibawah 18 tahun paling banyak terpapar iklan rokok melalui TV. Selain itu, anak dan remaja juga lebih besar terpapar iklan rokok melalui internet disbandingkan orang dewasa. Ridhwan juga mengutip hasil studi yang dilakukan STIKOM LSPR, Jakarta tahun 2018 yaitu sebanyak 3 dari 4 remaja mengetahui iklan rokok di media online. Iklan rokok banyak ditemui oleh remaja pada platform media social seperti Youtube, berbagai website, Instagram, serta game online. Terpaan iklan rokok di media online ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sikap merokok remaja di Indonesia dengan kekuatan pengaruh sebesar 31,8%.

Rekomendasi kepada Pemerintah:

  • Memperkuat kebijakan pelarangan total iklan rokok di semua media, khususnya di media online.
  • Meningkatkan kemitraan dengan Perguruan Tinggi, masyarakat sipil, organisasi profesi bagi penerapan dan pengawasan secara periodik dan terus menerus mengenai kebijakan pengendalian konsumsi rokok di Indonesia.

-selesai-

 

Tentang TCSC IAKMI
Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC IAKMI), berdiri tahun 2017 di Jakarta, adalah organisasi sipil kemasyarakatan yang khusus bergerak di bidang advokasi kebijakan pengendalian tembakau dengan tujuan utamanya menciptakan generasi berkualitas bebas dari adiksi racun tembakau.

  

Kontak:

Kiki Soewarso
kikisoewarso@yahoo.com
0818820084

 

TCSC IAKMI
Gd. Mochtar, lt. 2, Jl. Pegangsaan Timur/ 16, Cikini, Jakarta Pusat
www.tcsc-indonesia.org; @tcsc.iakmi

Pemerintah Harus Segera Memperkuat Kebijakan
Peningkatan Ukuran Peringatan Kesehatan Bergambar Pada Bungkus Rokok

 “Mayoritas Masyarakat Indonesia mendukung Peningkatan Ukuran Peringatan Kesehatan Bergambar Pada Bungkus Rokok”

Jakarta, 14 Maret 2019 – Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI) hari ini di Jakarta memaparkan hasil studi tentang “Opini Publik Efektifitas Peringatan Kesehatan Bergambar Pada Bungkus Rokok”, yang telah dilakukan pada bulan September – Desember 2017 di 16 kota besar di Indonesia. Penelitian ini bekerjasama dengan 14 Universitas dan 1 Organisasi Kemasyarakatan meliputi kota Jakarta, Serang, Bogor, Semarang, Magelang, Jember, Kediri, Padang, Palembang, Medan, Pontianak, Banjarmasin, Makasar, Menado, Denpasar dan Mataram dengan total 5.349 responden. Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi masyarakat dan tingkat dukungan masyarakat terhadap upaya meningkatkan ukuran peringatan kesehatan bergambar.

Peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok merupakan sarana edukasi publik yang efektif dan murah mengenai dampak buruk rokok bagi kesehatan guna menurunkan konsumsi rokok masyarakat yang masih terus meningkat. Saat ini, peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok yang beredar di Indonesia luasnya sebesar 40% dari permukaan bungkus bagian depan dan belakang. Sedangkan Permenkes no. 40 tahun 2013 mengamanatkan luas peringatan kesehatan bergambar tersebut harus sebesar 75% dari permukaan bungkus rokok untuk tahun 2015 – 2019. Sayangnya hingga kuartal pertama 2019, belum ada tanda-tanda bahwa akan ada perluasan dimaksud.

Hasil opini publik yang dilakukan oleh TCSC IAKMI 6 bulan setelah implementasi peringatan kesehatan bergambar dilaksanakan pertama kali pada tahun 2014, menunjukkan 78,8% publik menginginkan perluasan peringatan kesehatan. Hasil studi terbaru yang dilakukan pada akhir 2017, semakin menunjukan mayoritas publik mendukung peningkatan peringatan kesehatan bergambar ini. Sebanyak 80,90% responden mendukung peningkatan sebesar 90% dan 64,10% mendukung peningkatan sebesar 75%.

Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, dr. Rizkiyana SP, Mkes, mengatakan dalam paparannya bahwa, “Peringatan kesehatan bergambar adalah upaya paling efektif dan murah untuk menurunkan prevalensi perokok pemula. Perlu adanya peningkatan kualitasa peringatan kesehatan bergambar ini.”

Tara S. Bahm dari Union, menegaskan bahwa tujuan utama implementasi peringatan kesehatan bergambar adalah untuk membangun kesadaran dan pengetahuan publik akan bahaya rokok, mendenormalisasi produk tembakau, juga melindungi anak dan remaja dari godaan menjadi perokok pemula, serta meyakiinkan perokok untuk berhenti merokok.

“Peringatan kesehatan bergambar di negara lain banyak yang amat bagus,” menurut Dina Kania, SH, LL.M dari WHO, menyoroti pelaksaan peringatan kesehatan bergambar di dunia. Sepuluh besar yang terbaik pelaksanaanya berasal dari negara berkembang, salah satunya Timor Leste dengan ukuran peringatan kesehatan bergambar sebesar 92,5%. “Padahal beberapa tahun yang lalu mereka masih jauh tertinggal, namun sekarang sudah jauh lebih maju dari Indonesia,” papar Dina selanjutnya.

Ridhwan Fauzy, MPH dari TCSC, IAKMI dalam diseminasi hasil studi ini menyajikan data bahwa ukuran peringatan kesehatan bergambar yang lebih besar, efektif dalam menginformasikan bahaya rokok kepada publik. Mayoritas responden (79,2%) menilai bahwa peringatan kesehatan bergambar 90% amat sangat dan sangat efektif dalam menginformasikan nahaya rokok kepada masyarakat. Hal ini, sesuai dengan studi eksperimental di Kanada bahwa ukuran peringatah kesehatan bergambar yang lebih besar memperkuat keyakinan orang dewasa dan remaja mengenai bahaya rokok bagi kesehatan.

Hasil studi ini juga menunjukan sebagian besar masyarakat merasa ukuran peringatan kesehatan bergambar yang lebih besar menimbulkan rasa takut terhadap bahaya rokok. Hal ini sejalan dengan hasil studi longitudinal di Uruguay (2016), bahwa peringatan kesehatan bergambar dengan luas 80% secara signifikan mendorong responden memikirkan bahaya merokok.

Peringatan kesehatan bergambar dengan ukuran lebih besar juga terbukti efektif memotivasi perokok untuk mengurangi jumlah konsumsi batang rokok dan membantu mereka berhenti merokok. (Hammond, 2011). Lebih dari setengah responden (53,5%) dalam penelitian ini merasa bahwa ukuran peringatan kesehatan bergambar 90% amat sangat efektif dan sangat efektif memberi motivasi perokok berhenti merokok.

Rekomendasi kepada Pemerintah:

  • Memperkuat kebijakan mengenai ukuran peringatan kesehatan bergambar menjadi 90% serta ukuran tulisan
  • Mencantumkan tulisan rokok dilarang dijual kepada anak usia 18 tahun ke
  • Larang penjualan rokok eceran dan menerapkan standar pengemasan rokok minimal 20 batang per bungkus.
  • Pita cukai tidak boleh menutupi peringatan kesehatan
  • Hapus pencantuman informasi tentang kadar tar, nikotin dan zat adiktif
  • Meningkatkan kemitraan dengan Perguruan Tinggi, masyarakat sipil, organisasi profesi bagi penerapan dan pengawasan secara periodik dan terus menerus mengenai kebijakan pengendalian konsumsi rokok di

 

-selesai-

Tentang TCSC IAKMI
Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC IAKMI), berdiri tahun 2017 di Jakarta, adalah organisasi sipil kemasyarakatan yang khusus bergerak di bidang advokasi kebijakan pengendalian tembakau dengan tujuan utamanya menciptakan generasi berkualitas bebas dari adiksi racun tembakau.

 

Kontak:

Kiki Soewarso
kikisoewarso@yahoo.com
0818820084

TCSC IAKMI
Gd. Mochtar, lt. 2, Jl. Pegangsaan Timur/ 16, Cikini, Jakarta Pusat
www.tcsc-indonesia.org; @tcsc.iakmi

Studi Paparan Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok
Pada Anak dan Remaja Usia dibawah 18 tahun di Indonesia

“Media TV, Acara Musik dan Pembagian Sampel Rokok Gratis adalah Tiga Kegiatan Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok yang Paling Mempengaruhi Status Perokok Anak dan Remaja di Indonesia”

Jakarta, 28 September 2018 – – TCSC IAKMI hari ini melakukan diseminasi hasil penelitian mengenai “Paparan Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok Pada Anak dan Remaja Usia dibawah 18 tahun di Indonesia”. “Trend merokok pada anak dan remaja laki-laki dan perempuan yang terus mengalami peningkatan, menjadi latar belakang dilakukannya penelitian ini (Oktober – Desember 2017) di 16 Kota/ Kabupaten dengan total responden 1098 anak dan remaja usia di bawah 18 tahun,” jelas dr. Sumarjati Arjoso, SKM, MPH, Ketua TCSC-IAKMI. Lebih lanjut dr. Sumaryati menjelaskan, penelitian ini melibatkan enumerator dari 14 Universitas dan 1 Organisasi Masyarakat Sipil, bertujuan mengetahui: tingkat keterpaparan iklan, promosi, dan sponsor rokok; hubungan antara paparan iklan rokok dengan status merokok; hubungan antara paparan promosi dan sponsor rokok dengan status merokok pada anak dan remaja usia di bawah 18 tahun di Indonesia.