Beranda

Siaran Pers

Pemerintah Harus Segera Memperkuat Kebijakan
Peningkatan Ukuran Peringatan Kesehatan Bergambar Pada Bungkus Rokok

 “Mayoritas Masyarakat Indonesia mendukung Peningkatan Ukuran Peringatan Kesehatan Bergambar Pada Bungkus Rokok”

Jakarta, 14 Maret 2019 ——Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC, IAKMI) hari ini di Jakarta memaparkan hasil studi tentang “Opini Publik Efektifitas Peringatan Kesehatan Bergambar Pada Bungkus Rokok”, yang telah dilakukan pada bulan September – Desember 2017 di 16 kota besar di Indonesia. Penelitian ini bekerjasama dengan 14 Universitas dan 1 Organisasi Kemasyarakatan meliputi kota Jakarta, Serang, Bogor, Semarang, Magelang, Jember, Kediri, Padang, Palembang, Medan, Pontianak, Banjarmasin, Makasar, Menado, Denpasar dan Mataram dengan total 5.349 responden. Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi masyarakat dan tingkat dukungan masyarakat terhadap upaya meningkatkan ukuran peringatan kesehatan bergambar.

Peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok merupakan sarana edukasi publik yang efektif dan murah mengenai dampak buruk rokok bagi kesehatan guna menurunkan konsumsi rokok masyarakat yang masih terus meningkat. Saat ini, peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok yang beredar di Indonesia luasnya sebesar 40% dari permukaan bungkus bagian depan dan belakang. Sedangkan Permenkes no. 40 tahun 2013 mengamanatkan luas peringatan kesehatan bergambar tersebut harus sebesar 75% dari permukaan bungkus rokok untuk tahun 2015 – 2019. Sayangnya hingga kuartal pertama 2019, belum ada tanda-tanda bahwa akan ada perluasan dimaksud.

Hasil opini publik yang dilakukan oleh TCSC IAKMI 6 bulan setelah implementasi peringatan kesehatan bergambar dilaksanakan pertama kali pada tahun 2014, menunjukkan 78,8% publik menginginkan perluasan peringatan kesehatan. Hasil studi terbaru yang dilakukan pada akhir 2017, semakin menunjukan mayoritas publik mendukung peningkatan peringatan kesehatan bergambar ini. Sebanyak 80,90% responden mendukung peningkatan sebesar 90% dan 64,10% mendukung peningkatan sebesar 75%.

Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, dr. Rizkiyana SP, Mkes, mengatakan dalam paparannya bahwa, “Peringatan kesehatan bergambar adalah upaya paling efektif dan murah untuk menurunkan prevalensi perokok pemula. Perlu adanya peningkatan kualitasa peringatan kesehatan bergambar ini.”

Tara S. Bahm dari Union, menegaskan bahwa tujuan utama implementasi peringatan kesehatan bergambar adalah untuk membangun kesadaran dan pengetahuan publik akan bahaya rokok, mendenormalisasi produk tembakau, juga melindungi anak dan remaja dari godaan menjadi perokok pemula, serta meyakiinkan perokok untuk berhenti merokok.

“Peringatan kesehatan bergambar di negara lain banyak yang amat bagus,” menurut Dina Kania, SH, LL.M dari WHO, menyoroti pelaksaan peringatan kesehatan bergambar di dunia. Sepuluh besar yang terbaik pelaksanaanya berasal dari negara berkembang, salah satunya Timor Leste dengan ukuran peringatan kesehatan bergambar sebesar 92,5%. “Padahal beberapa tahun yang lalu mereka masih jauh tertinggal, namun sekarang sudah jauh lebih maju dari Indonesia,” papar Dina selanjutnya.

Ridhwan Fauzy, MPH dari TCSC, IAKMI dalam diseminasi hasil studi ini menyajikan data bahwa ukuran peringatan kesehatan bergambar yang lebih besar, efektif dalam menginformasikan bahaya rokok kepada publik. Mayoritas responden (79,2%) menilai bahwa peringatan kesehatan bergambar 90% amat sangat dan sangat efektif dalam menginformasikan nahaya rokok kepada masyarakat. Hal ini, sesuai dengan studi eksperimental di Kanada bahwa ukuran peringatah kesehatan bergambar yang lebih besar memperkuat keyakinan orang dewasa dan remaja mengenai bahaya rokok bagi kesehatan.

Hasil studi ini juga menunjukan sebagian besar masyarakat merasa ukuran peringatan kesehatan bergambar yang lebih besar menimbulkan rasa takut terhadap bahaya rokok. Hal ini sejalan dengan hasil studi longitudinal di Uruguay (2016), bahwa peringatan kesehatan bergambar dengan luas 80% secara signifikan mendorong responden memikirkan bahaya merokok.

Peringatan kesehatan bergambar dengan ukuran lebih besar juga terbukti efektif memotivasi perokok untuk mengurangi jumlah konsumsi batang rokok dan membantu mereka berhenti merokok. (Hammond, 2011). Lebih dari setengah responden (53,5%) dalam penelitian ini merasa bahwa ukuran peringatan kesehatan bergambar 90% amat sangat efektif dan sangat efektif memberi motivasi perokok berhenti merokok.

Rekomendasi kepada Pemerintah:

  • Memperkuat kebijakan mengenai ukuran peringatan kesehatan bergambar menjadi 90% serta ukuran tulisan
  • Mencantumkan tulisan rokok dilarang dijual kepada anak usia 18 tahun ke
  • Larang penjualan rokok eceran dan menerapkan standar pengemasan rokok minimal 20 batang per bungkus.
  • Pita cukai tidak boleh menutupi peringatan kesehatan
  • Hapus pencantuman informasi tentang kadar tar, nikotin dan zat adiktif
  • Meningkatkan kemitraan dengan Perguruan Tinggi, masyarakat sipil, organisasi profesi bagi penerapan dan pengawasan secara periodik dan terus menerus mengenai kebijakan pengendalian konsumsi rokok di

 

-selesai-

Tentang TCSC IAKMI

Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC IAKMI), berdiri tahun 2017 di Jakarta, adalah organisasi sipil kemasyarakatan yang khusus bergerak di bidang advokasi kebijakan pengendalian tembakau dengan tujuan utamanya menciptakan generasi berkualitas bebas dari adiksi racun tembakau.

 

Kontak:

Kiki Soewarso kikisoewarso@yahoo.com

0818820084

TCSC IAKMI

Gd. Mochtar, lt. 2, Jl. Pegangsaan Timur/ 16, Cikini, Jakarta Pusat www.tcsc-indonesia.org; @tcsc.iakmi

Studi Paparan Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok
Pada Anak dan Remaja Usia dibawah 18 tahun di Indonesia

“Media TV, Acara Musik dan Pembagian Sampel Rokok Gratis adalah Tiga Kegiatan Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok yang Paling Mempengaruhi Status Perokok Anak dan Remaja di Indonesia”

Jakarta, 28 September 2018 – – TCSC IAKMI hari ini melakukan diseminasi hasil penelitian mengenai “Paparan Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok Pada Anak dan Remaja Usia dibawah 18 tahun di Indonesia”. “Trend merokok pada anak dan remaja laki-laki dan perempuan yang terus mengalami peningkatan, menjadi latar belakang dilakukannya penelitian ini (Oktober – Desember 2017) di 16 Kota/ Kabupaten dengan total responden 1098 anak dan remaja usia di bawah 18 tahun,” jelas dr. Sumarjati Arjoso, SKM, MPH, Ketua TCSC-IAKMI. Lebih lanjut dr. Sumaryati menjelaskan, penelitian ini melibatkan enumerator dari 14 Universitas dan 1 Organisasi Masyarakat Sipil, bertujuan mengetahui: tingkat keterpaparan iklan, promosi, dan sponsor rokok; hubungan antara paparan iklan rokok dengan status merokok; hubungan antara paparan promosi dan sponsor rokok dengan status merokok pada anak dan remaja usia di bawah 18 tahun di Indonesia.

Hasil studi ini menemukan bahwa, secara umum, remaja paling banyak terpapar iklan rokok dari media TV (85%). Hal ini menunjukan bahwa media TV merupakan media iklan yang paling sering dilihat oleh anak dan remaja. Selain itu paparan iklan rokok di internet jauh lebih besar pada kelompok usia remaja (45,7%) dibandingkan dengan kelompok usia dewasa (38%). Secara umum, paparan promosi dan sponsor rokok terhadap anak dan remaja usia dibawah 18 tahun sama dengan paparan pada dewasa, yaitu paling banyak terpapar dari toko yang menjual rokok.

Dr. Hendriyani, S.Sos, M.Si dari Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) mengatakan, “Penelitian mengenai pengaruh paparan dan dampak paparan iklan, promosi dan sponsor rokok pada anak dan remaja sangat penting. Selama ini industri rokok sangat agresif merekrut anak dan remaja menjadi perokok baru dan menjadikan mereka pelanggan tetap jangka panjang melalui kegiatan iklan, promosi dan sponsor rokok. Untuk itu semua kegiatan iklan, promosi dan sponsor rokok harus dilarang total!” Dari 10 media iklan rokok, ada 5 media yang memiliki pengaruh signifikan terhadap anak dan remaja usia dibawah 18 tahun untuk menjadi perokok yaitu, TV, radio, billboard, poster dan internet. Anak dan remaja usia dibawah 18 tahun yang terpapar iklan rokok di TV memiliki peluang 2,24 kali lebih besar untuk menjadi perokok dibandingkan dengan anak dan remaja yang tidak terpapar iklan rokok di TV. Sedangkan pada media Radio, Billboard, Poster dan Internet, kecenderungannya berkisar 1,5 kali lebih besar. Sebanyak 8 dari 9 media iklan rokok mempunyai hubungan dengan status merokok pada anak dan remaja di bawah usia 18 tahun. Toko yang menjual rokok paling tinggi paparannya, hal ini karena toko yang menjual rokok merupakan hal yang umum di kalangan masyarakat. Anak dan remaja usia dibawah 18 tahun yang melihat pembagian sampel rokok gratis memiliki peluang 2,8 kali lebih besar untuk menjadi perokok dibandingkan dengan anak dan remaja yang tidak melihat pembagian sampel rokok gratis. Pada kegiatan promosi dan sponsor lain angkanya bervariasi sebagai berikut, promosi di acara musik (2,45), kupon/ voucher rokok (2,07), diskon harga rokok (2,05), hadiah gratis (1,99), surat (1,93), logo rokok pada merchadise (1,74), acara olahraga (1,49). “Media TV, acara musik, dan pembagian sampel rokok gratis adalah tiga kegiatan iklan, promosi, dan sponsor yang paling berhubungan dengan status perokok pada anak dan remaja. Untuk itu iklan, promosi dan sponsor rokok harus dilarang total jika kita mau menciptakan generasi berkualitas tanpa asap rokok,” papar dr. Sumarjati Arjoso, SKM. DPR harus segera mengesahkan kebijakan yang tegas tentang larangan total iklan, promosi dan sponsor rokok seperti tercantum dalam RUU Penyiaran, yang sampai saat ini masih menggantung dalam pembahasan, himbaunya lebih lanjut.

 

-selesai –

Kontak: Kiki Soewarso

0818 820084

kikisoewarso@yahoo.com

Baby Smoker” Masih Tetap Ada!

Perlu Kebijakan Pengendalian Tembakau Yang Kuat dan Pro Kesehatan Publik Untuk
Menghentikan Munculnya Baby Smoker Baru di Seluruh Pelosok Indonesia

Jakarta, 21 Agustus 2018 —— Saat ini, peningkatan angka konsumsi rokok pada anak di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Fenomena baby smoker di Indonesia atau perokok bayi tidak pernah hilang dan masih terus bermunculan baby smoker-baby smoker baru di pelosok-pelosok pedesaan dengan usia yang semakin muda. Kejadian yang masih terus berulang ini telah mencoreng nama Indonesia di dunia internasional. Tahun 1995, sebanyak 9,6 persen penduduk usia 5-14 tahun mulai mencoba merokok. Pada 2001, jumlah ini naik jadi 9,9 persen, kemudian terus melonjak hingga 19,2 persen pada 2010. (Fakta Tembakau, TCSC IAKMI, 2014). Angka-angka tersebut saat ini terus memburuk. Hal ini amat mengkhawatirkan, mengingat anak usia 5-14 tahun seharusnya masih di bawah pengawasan orangtua. Sedangkan para orang tua masih banyak yang menjadi perokok dan belum mendapat informasi serta pengetahuan yang benar tentang bahaya rokok.

Baru-baru ini kembali ditemukan batita perokok, Rapi Ananda Pamungkas asal Cibadak, Sukabumi belum genap berusia 2 tahun. Kasus Rapi ini sangat memprihatinkan, selain karena usianya yang masih amat muda, konsumsi merokoknya perhari amat tinggi, melebihi orang dewasa pada umumnya. Ini memperlihatkan bahwa usia pertama kali merokok pada anak-anak semakin dini. Setelah mencoba merokok dan terkena racun adiksi nikotin, anak-anak akan terus menjadi perokok dengan jumlah batang yang dihisap per harinya semakin banyak.

“Sungguh ironis, di saat Kementerian Kesehatan menggalakkan GERMAS (Gerakan Masyarakat Untuk Hidup Sehat) kejadian Baby Smoker masih terus ada, bukan terjadi pada anak SD atau TK, tapi pada batita yang bahkan belum berusia 2 tahun,” ujar dr. Sumarjati Arjoso, SKM, Ketua TCSC IAKMI. Hal ini merupakan kesalahan semua pihak. Dimulai dari perokok yang membuang rokok sembarangan, orang tua dan lingkungan yang merokok dekat anak-anak, penjualan rokok tanpa pembatasan, iklan rokok yang masif menyasar anak dan remaja, “Untuk itu Pemerintah perlu segera membuat aturan yang tegas guna menghambat munculnya baby smoker baru!” Demikianpapar dr. Sumarjati. Sejalan dengan itu, Rita Pranawati, MA, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) setuju bahwa, “Perlu peran negara untuk melindungi anak dari racun adiksi rokok.” Bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tapi juga masyarakat luas dan keterlibatan semua pihak berperan penting untuk menciptakan anak Indonesia yang berkualitas bebas dari asap rokok. Inilah satu-satunya cara menghambat munculnya bayi-bayi perokok baru.

Ketua No Tobacco Community, Ir. Bambang Priyono, M.T menelusuri jejak Rapi Ananda sampai ke rumahnya. “Awal mula anak ini merokok dari memungut puntungpuntung rokok yang ada di halaman rumah sampai akhirnya kecanduan,” tuturnya. Lebih jauh Bambang mendapati bahwa kondisi Rapi dipicu oleh ayah perokok dan Ibu berjualan rokok. Selain itu Rapi juga amat sadar dengan iklan rokok walapupun iklannya tidak menampilkan produk rokok. Jika melihat iklan rokok, Rapi langsung spontan minta dibelikan rokok dan tidak akan berhenti memaksa dengan segala cara hingga keinginannya terpenuhi.

Penelitian TCSC IAKMI pada tahun 2017 di 15 Kota/ Kabupaten menemukan bahwa, anak dan remaja usia dibawah 18 tahun paling banyak terpapar iklan rokok melalui TV (83%), banner (73,80%), billboard (67,10%), poster (64,80%), dan tembok publik (54,10%). Anak dan remaja usia dibawah 18 tahun yang terpapar iklan rokok di TV memiliki peluang 2,24 kali lebih besar untuk menjadi perokok dibandingkan dengan anak dan remaja usia dibawah 18 tahun yang tidak terpapar iklan rokok di TV. Begitu pula dengan anak usia dibawah 18 tahun yang terpapar iklan rokok di radio, billboard, poster, dan internet memiliki peluang sebesar 1,54 kali, 1,55 kali, 1,53 kali, dan 1,59 kali lebih besar untuk menjadi perokok. Kebijakan pengendalian tembakau yang komprehensif mutlak diperlukan guna mencegah bayi-bayi Indonesia menjadi perokok-perokok dini dan melindungi mereka dari ancaman adiksi racun tembakau. Anak dan remaja adalah target empuk industri rokok yang akan menjadi market jangka panjang mereka. Masyarakat perlu mendapat informasi yang jelas dan benar mengenai bahaya asap rokok. Peringatan Kesehatan Bergambar

Dalam Bungkus Rokok perlu diperbesar ukurannya agar lebih efektif lagi menginformasikan tentang bahaya rokok kepada masyarakat luas. Penerapan Larangan Total Iklan Sponsor Promosi rokok harus dilakukan, termasuk didalamnya adalah melalui UU Penyiaran. Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok harus dilaksanakan dengan tegas dan tanpa kompromi melalui Peraturan-peraturan Daerah. Peningkatan pajak rokok perlu segera diberlakukan untuk membuat harga rokok menjadi amat mahal, agar sulit dijangkau oleh anak dan remaja juga masyarakat miskin. “Tanpa kemauan yang tinggi untuk membuat kebijakan pengendalian tebakau yang kuat dan komprehensif dan implementasi yang ketat, baby smoker akan terus bermunculan, semakin dini usianya dan semakin banyak jumlahnya. Indonesia akan semakin dipermalukan!” Pungkas dr. Sumarjati Arjoso, SKM.

 

-selesai-

Tentang KPAI

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) adalah lembaga independen Indonesia yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam rangka meningkatkan efektifitas penyelenggaraan perlindungan anak.

Tentang TCSC IAKMI

Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC IAKMI), berdiri tahun 2017 di Jakarta, adalah organisasi sipil kemasyarakatan yang khusus bergerak di bidang advokasi pengendalian tembakau dengan tujuan utamanya menciptakan generasi berkualitas bebas dari adiksi racun tembakau.

Tentang NOTC

No Tobacco Community adalah LSM yang berlokasi di Kota Bogor, melakukan kegiatan di bidang kesehatan, yaitu upaya penanggulangan masalah tembakau, khususnya masalah merokok.

 

Kontak:

Kiki Soewarso

kikisoewarso@yahoo.com

0818820084

line
Translate »