Beranda

Siaran Pers

Studi Paparan Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok
Pada Anak dan Remaja Usia dibawah 18 tahun di Indonesia

“Media TV, Acara Musik dan Pembagian Sampel Rokok Gratis
adalah Tiga Kegiatan Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok yang
Paling Mempengaruhi Status Perokok Anak dan Remaja di Indonesia”

Jakarta, 28 September 2018 - – TCSC IAKMI hari ini melakukan diseminasi hasil
penelitian mengenai “Paparan Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok Pada Anak dan Remaja
Usia dibawah 18 tahun di Indonesia”. “Trend merokok pada anak dan remaja laki-laki dan
perempuan yang terus mengalami peningkatan, menjadi latar belakang dilakukannya
penelitian ini (Oktober – Desember 2017) di 16 Kota/ Kabupaten dengan total responden
1098 anak dan remaja usia di bawah 18 tahun,” jelas dr. Sumarjati Arjoso, SKM, MPH,
Ketua TCSC-IAKMI. Lebih lanjut dr. Sumaryati menjelaskan, penelitian ini melibatkan
enumerator dari 14 Universitas dan 1 Organisasi Masyarakat Sipil, bertujuan mengetahui:
tingkat keterpaparan iklan, promosi, dan sponsor rokok; hubungan antara paparan iklan
rokok dengan status merokok; hubungan antara paparan promosi dan sponsor rokok
dengan status merokok pada anak dan remaja usia di bawah 18 tahun di Indonesia.

Hasil studi ini menemukan bahwa, secara umum, remaja paling banyak terpapar iklan
rokok dari media TV (85%). Hal ini menunjukan bahwa media TV merupakan media iklan
yang paling sering dilihat oleh anak dan remaja. Selain itu paparan iklan rokok di internet
jauh lebih besar pada kelompok usia remaja (45,7%) dibandingkan dengan kelompok usia
dewasa (38%). Secara umum, paparan promosi dan sponsor rokok terhadap anak dan
remaja usia dibawah 18 tahun sama dengan paparan pada dewasa, yaitu paling banyak
terpapar dari toko yang menjual rokok.

Dr. Hendriyani, S.Sos, M.Si dari Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA)
mengatakan, “Penelitian mengenai pengaruh paparan dan dampak paparan iklan, promosi
dan sponsor rokok pada anak dan remaja sangat penting. Selama ini industri rokok sangat
agresif merekrut anak dan remaja menjadi perokok baru dan menjadikan mereka pelanggan
tetap jangka panjang melalui kegiatan iklan, promosi dan sponsor rokok. Untuk itu semua
kegiatan iklan, promosi dan sponsor rokok harus dilarang total!”

Dari 10 media iklan rokok, ada 5 media yang memiliki pengaruh signifikan terhadap
anak dan remaja usia dibawah 18 tahun untuk menjadi perokok yaitu, TV, radio, billboard,
poster dan internet. Anak dan remaja usia dibawah 18 tahun yang terpapar iklan rokok di TV
memiliki peluang 2,24 kali lebih besar untuk menjadi perokok dibandingkan dengan anak
dan remaja yang tidak terpapar iklan rokok di TV. Sedangkan pada media Radio, Billboard,
Poster dan Internet, kecenderungannya berkisar 1,5 kali lebih besar.

Sebanyak 8 dari 9 media iklan rokok mempunyai hubungan dengan status merokok
pada anak dan remaja di bawah usia 18 tahun. Toko yang menjual rokok paling tinggi
paparannya, hal ini karena toko yang menjual rokok merupakan hal yang umum di kalangan
masyarakat. Anak dan remaja usia dibawah 18 tahun yang melihat pembagian sampel rokok
gratis memiliki peluang 2,8 kali lebih besar untuk menjadi perokok dibandingkan dengan
anak dan remaja yang tidak melihat pembagian sampel rokok gratis. Pada kegiatan promosi
dan sponsor lain angkanya bervariasi sebagai berikut, promosi di acara musik (2,45),
kupon/ voucher rokok (2,07), diskon harga rokok (2,05), hadiah gratis (1,99), surat (1,93),
logo rokok pada merchadise (1,74), acara olahraga (1,49).

“Media TV, acara musik, dan pembagian sampel rokok gratis adalah tiga kegiatan
iklan, promosi, dan sponsor yang paling berhubungan dengan status perokok pada anak
dan remaja. Untuk itu iklan, promosi dan sponsor rokok harus dilarang total jika kita mau
menciptakan generasi berkualitas tanpa asap rokok,” papar dr. Sumarjati Arjoso, SKM. DPR
harus segera mengesahkan kebijakan yang tegas tentang larangan total iklan, promosi dan
sponsor rokok seperti tercantum dalam RUU Penyiaran, yang sampai saat ini masih
menggantung dalam pembahasan, himbaunya lebih lanjut.

-selesai -

Kontak: Kiki Soewarso
0818 820084
kikisoewarso@yahoo.com

———————————————————————————————————————————–

Tentang TCSC IAKMI
Tobacco Control Support Center (TCSC) merupakan badan khusus pengendalian tembakau di bawah
struktur Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). Didirikan tahun 2007. Visinya adalah:
“Generasi Indonesia yang Sehat Tanpa Tembakau” Misi: Mendorong perlindungan hukum terhadap
dampak konsumsi tembakau khususnya bagi kelompok rentan; Mengembangkan jaringan
pengendalian dampak tembakau yang efektif yang bersifat non hirarkhis; Meningkatkan kesadaran
masyarakat akan bahaya adikisi nikotin dan dampak merugikan dari penggunaan tembakau serta
pajanan asap rokok orang lain; termasuk hak untuk mendapatkan perlindungan hukum 100%
kawasan tanpa asap rokok.

Tentang YPMA
Yayasan Pengembangan Media Anak adalah sebuah LSM yang memiliki kegiatan utama pada
persoalan anak dan media, khususnya Literasi Media. Berdiri tahun 2004. Misinya adalah: Melindungi
anak dari dampak negatif media; Mengupayakan adanya peraturan perundangan yang
memperhatikan kepentingan terbaik anak, Memproduksi informasii kritis tentang isi media untuk
anak; Menyebarluaskan kemampuan cerdas bermedia dan menciptakan generasi yang Kritis!
membaca media.

Siaran Pers

“Baby Smoker” Masih Tetap Ada!

Perlu Kebijakan Pengendalian Tembakau Yang Kuat dan Pro Kesehatan Publik
Untuk Menghentikan Munculnya Baby Smoker Baru di Seluruh Pelosok Indonesia

Jakarta, 21 Agustus 2018 —— Saat ini, peningkatan angka konsumsi rokok pada anak di
Indonesia sangat mengkhawatirkan. Fenomena baby smoker di Indonesia atau perokok
bayi tidak pernah hilang dan masih terus bermunculan baby smoker-baby smoker baru di
pelosok-pelosok pedesaan dengan usia yang semakin muda. Kejadian yang masih terus
berulang ini telah mencoreng nama Indonesia di dunia internasional.

Tahun 1995, sebanyak 9,6 persen penduduk usia 5-14 tahun mulai mencoba
merokok. Pada 2001, jumlah ini naik jadi 9,9 persen, kemudian terus melonjak hingga
19,2 persen pada 2010. (Fakta Tembakau, TCSC IAKMI, 2014). Angka-angka tersebut
saat ini terus memburuk. Hal ini amat mengkhawatirkan, mengingat anak usia 5-14 tahun
seharusnya masih di bawah pengawasan orangtua. Sedangkan para orang tua masih
banyak yang menjadi perokok dan belum mendapat informasi serta pengetahuan yang
benar tentang bahaya rokok.

Baru-baru ini kembali ditemukan batita perokok, Rapi Ananda Pamungkas
asal Cibadak, Sukabumi belum genap berusia 2 tahun. Kasus Rapi ini sangat
memprihatinkan, selain karena usianya yang masih amat muda, konsumsi merokoknya
perhari amat tinggi, melebihi orang dewasa pada umumnya. Ini memperlihatkan bahwa
usia pertama kali merokok pada anak-anak semakin dini. Setelah mencoba merokok dan
terkena racun adiksi nikotin, anak-anak akan terus menjadi perokok dengan jumlah
batang yang dihisap per harinya semakin banyak.

“Sungguh ironis, di saat Kementerian Kesehatan menggalakkan GERMAS
(Gerakan Masyarakat Untuk Hidup Sehat) kejadian Baby Smoker masih terus ada, bukan
terjadi pada anak SD atau TK, tapi pada batita yang bahkan belum berusia 2 tahun,” ujar
dr. Sumarjati Arjoso, SKM, Ketua TCSC IAKMI. Hal ini merupakan kesalahan semua
pihak. Dimulai dari perokok yang membuang rokok sembarangan, orang tua dan
lingkungan yang merokok dekat anak-anak, penjualan rokok tanpa pembatasan, iklan
rokok yang masif menyasar anak dan remaja, “Untuk itu Pemerintah perlu segera
membuat aturan yang tegas guna menghambat munculnya baby smoker baru!” Demikian
papar dr. Sumarjati.

Sejalan dengan itu, Rita Pranawati, MA, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) setuju bahwa, “Perlu peran negara untuk melindungi anak dari racun
adiksi rokok.” Bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tapi juga masyarakat
luas dan keterlibatan semua pihak berperan penting untuk menciptakan anak Indonesia
yang berkualitas bebas dari asap rokok. Inilah satu-satunya cara menghambat munculnya
bayi-bayi perokok baru.

Ketua No Tobacco Community, Ir. Bambang Priyono, M.T menelusuri jejak Rapi
Ananda sampai ke rumahnya. “Awal mula anak ini merokok dari memungut puntungpuntung
rokok yang ada di halaman rumah sampai akhirnya kecanduan,” tuturnya. Lebih
jauh Bambang mendapati bahwa kondisi Rapi dipicu oleh ayah perokok dan Ibu berjualan
rokok. Selain itu Rapi juga amat sadar dengan iklan rokok walapupun iklannya tidak
menampilkan produk rokok. Jika melihat iklan rokok, Rapi langsung spontan minta
dibelikan rokok dan tidak akan berhenti memaksa dengan segala cara hingga
keinginannya terpenuhi.

Penelitian TCSC IAKMI pada tahun 2017 di 15 Kota/ Kabupaten menemukan
bahwa, anak dan remaja usia dibawah 18 tahun paling banyak terpapar iklan rokok
melalui TV (83%), banner (73,80%), billboard (67,10%), poster (64,80%), dan tembok
publik (54,10%). Anak dan remaja usia dibawah 18 tahun yang terpapar iklan rokok di TV
memiliki peluang 2,24 kali lebih besar untuk menjadi perokok dibandingkan dengan anak
dan remaja usia dibawah 18 tahun yang tidak terpapar iklan rokok di TV. Begitu pula
dengan anak usia dibawah 18 tahun yang terpapar iklan rokok di radio, billboard, poster,
dan internet memiliki peluang sebesar 1,54 kali, 1,55 kali, 1,53 kali, dan 1,59 kali lebih
besar untuk menjadi perokok.

Kebijakan pengendalian tembakau yang komprehensif mutlak diperlukan guna
mencegah bayi-bayi Indonesia menjadi perokok-perokok dini dan melindungi mereka dari
ancaman adiksi racun tembakau. Anak dan remaja adalah target empuk industri rokok
yang akan menjadi market jangka panjang mereka. Masyarakat perlu mendapat informasi
yang jelas dan benar mengenai bahaya asap rokok. Peringatan Kesehatan Bergambar
Dalam Bungkus Rokok perlu diperbesar ukurannya agar lebih efektif lagi
menginformasikan tentang bahaya rokok kepada masyarakat luas. Penerapan Larangan
Total Iklan Sponsor Promosi rokok harus dilakukan, termasuk didalamnya adalah melalui
UU Penyiaran. Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok harus dilaksanakan dengan tegas dan
tanpa kompromi melalui Peraturan-peraturan Daerah. Peningkatan pajak rokok perlu
segera diberlakukan untuk membuat harga rokok menjadi amat mahal, agar sulit
dijangkau oleh anak dan remaja juga masyarakat miskin.

“Tanpa kemauan yang tinggi untuk membuat kebijakan pengendalian tebakau yang
kuat dan komprehensif dan implementasi yang ketat, baby smoker akan terus
bermunculan, semakin dini usianya dan semakin banyak jumlahnya. Indonesia akan
semakin dipermalukan!” Pungkas dr. Sumarjati Arjoso, SKM.

-selesai-

Tentang KPAI
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) adalah lembaga independen Indonesia yang dibentuk
berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam rangka
meningkatkan efektifitas penyelenggaraan perlindungan anak.

Tentang TCSC IAKMI
Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC IAKMI), berdiri tahun
2017 di Jakarta, adalah organisasi sipil kemasyarakatan yang khusus bergerak di bidang advokasi
pengendalian tembakau dengan tujuan utamanya menciptakan generasi berkualitas bebas dari adiksi racun
tembakau.

Tentang NOTC
No Tobacco Community adalah LSM yang berlokasi di Kota Bogor, melakukan kegiatan di bidang kesehatan,
yaitu upaya penanggulangan masalah tembakau, khususnya masalah merokok.

 

Kontak:
Kiki Soewarso
kikisoewarso@yahoo.com
0818820084

line